IWAN PELANI : Jauhi Politik Fitnah, Biasakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar

0
804

Kerinc, SI – Kandidat Bupati Kerinci H.Adirozal-H.Ami Taher  yang sedang bertarung, bawa perubahan adalah proses dan nafas gerakan reformasi. Perubahan yang selama ini diperjuangkan secara gradual terus bergerak memasuki urat nadi sosial politik masyarakat Kerinci. Otonomi daerah adalah salah satu tuntutan reformasi disamping memenuhi aspirasi Daerah. Perubahan dalam prespektif Ipoleksosbud, sering difahami identik dengan pengorbanan dan biaya sosial yang mahal.

Menurut Iwan Pelani Politisi muda dari PAN wilayah Kerinci hilir ini , bahwa Pilkada yang berpayung hukum pada UU. No. 32 Tahun 2004, layak diakui sebagai bagian dari proses perubahan demokrasi dengan biaya dan kemungkinan resiko sosial yang tinggi. Oleh karena itu, memasuki agenda pelaksanaan pilkada kali ini, ada tanda-tanda resistensi sosial politik . Salah satunya masih terdengar diantara calon – Bupati yang yang masih mempunyai dendam atau sentiment politik masa lalu dengan calon yang lainnya. Kekhawatiran kedua kemungkinan apresiasi sosial politik masyarakat untuk berpartisipasi terutama di masyarakat perkotaan masih cukup tinggi seperti dalam Pilkada sebelumnya.

Kekhawatiran itu menurut Bung Iwan didasarkan pada tiga jenis pemilih dalam setiap pemilu, yaitu pemilih ideologis yang konsisiten terhadap pilihannya terhadap sebuah partai. Kedua, pemilih pragmatis yaitu jika aspirasi pemilih tersalurkan maka yang bersangkutan memilih partai tersebut. Ketiga, pemilih transaksional, yaitu caleg dipilih berdasarkan transaksi yang dijalankan, “ terangnya

Lanjut Iwan , bahwa Faktor-faktor ini dapat memicu suasana persaingan semakin panas. Tidak ada salahnya kita perlu membangun kemauan untuk sadar berkorban demi persatuan dan nasionalisme sebagai warga Negara yang bertanggungjawab (amanah). Dalam pengertian, kita  sama-sama memiliki kemauan untuk membangun peradaban baru yang bersih dari sifat keserakahan, egoisme, arogansi dan prilaku tirani lainnya. Diantaranya kemauan memberi teladan, bagaimana berkompetisi yang sehat, fair dan sportif kepada para pendukung aktif dan masyarakat pemilihnya.

Karena pada hakekatnya, pemilihan Bupati Kerinci setiap lima tahunan adalah bagian mekanisme demokrasi, yaitu suatu proses untuk tujuan menghasilkan pemimpin daerah yang refresentatif dan bukan ajang perebutan kekuasaan atau kepentingan semata. Adalah tidak berlebihan saya menyarankan semua politisi yang terlibat dalam pertarungan kali ini mengembangkan budaya politik santun yaitu perilaku politik yang menghargai hak asasi manusia, nilai-nilai universal, keadilan dan kedaulatan rakyat wajib ditempat yang terhormat, “ terang Politisi muda ini

“ Artinya , seluruh calon Bupati bersama institusi politiknya (tim sukses) tidak mengembangkan budaya politik individualistik, yang menganggap politik dan jabatan Bupati hanya menjadi suatu cara bagi individu supaya dapat memperbaiki status dirinya dan keadaan ekonominya.

Menurut Komando Tim ARMI terkait dengan budaya politik santun, politikus yang terlibat dalam tim sukses masing-masing Paslon bupati Kerinci bertindak dan berpikir bak seorang cendekiawan yaitu politikus yang dapat mempertahankan nilai-nilai kebenaran dan keadilan yaitu menjalankan dan memberikan pemahaman politik yang santun kepada masyarakat. Bagaimana politik yang santun dalam praktiknya. Kira-kira pemahamannya yaitu Santun adalah ciri orang benar, yaitu tak ada orang benar yang tak santun. Mengingat orang yang tak santun dapat melunturkan kebenaran.

“ Oleh karena itu, ketika kita yang maju menjadi Bupati  tiba-tiba difitnah, dicaci, dimaki dan dihina, tetaplah bersikap meneladani. Ketika kecil, seorang guru agama saya pernah berpesan bahwa santun bukan berarti tak melawan, tapi melawan dengan santun. Artinya Anda boleh marah, tetapi marahlah dengan santun. Guru agama saya juga berpesan jagalah cinta dengan santunanmu, karena ketidaksantunan hanya membekukan cinta, lalu menghempaskan kekaguman tanpa sisa. Mengingat, bila kesantunan Anda mulai terkikis, lalu lenyap, nantikan terkikisnya ketangguhan kita dalam kontestasi politik.

Dikatakannya , bahwa kekuasaan politik praktis diarahkan untuk tujuan kemanusiaan. Dalam kemanusiaan berkaitan dengan kepentingan orang banyak. Oleh karena, kekuasaan disediakan agar beberapa orang yang dianggap mampu, bisa mengelola negeri ini, provinsi ini dan kabupaten/kota ini dengan benar. Pertanyaannya, kembali lagi dalam dilema kata “kekuasaan”. Realita di masyarakat, tidak semua (belum) memandang kekuasaan secara kemanusiaan. Kekuasaan lebih banyak dilihat dari sisi manusiawi. Manusiawi dan kemanusiaan itu berbeda. Kemanusiaan dapat diartikan pada nilai yang mengatur bagaimana menghargai jiwa manusia. Sedangkan manusiawi adalah sifat dasar manusia yaitu ada kebaikan dan keburukan dalam diri setiap manusia. Sifat manusiawi seperti ini acapkali memandang kekuasaan sebagai kebutuhan yang penting. Atau kekuasaan adalah pencapaian atas dedikasi hidup mereka. Hingga pada akhirnya banyak orang berebut dengan segala cara demi memperoleh kekuasaan. Ini yang sekarang berada di sekitar kita. Masya Allah.

“ Saya berharap dengan majunya H.Adirozal-H. Ami Taher ( ARMI ), yang berbaju pasangan PAS, tidak sampai melalaikan tuntunan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah yaitu jangan sampai melakukan fitnah satu dengan yang lain. Dalam politik praktis, fitnah, sering digunakan untuk menjelekkan pribadi kandidat lain sebagai kompetitornya. Dalam politik yang santun, tidak dikenal politik fitnah. Hal ini didasarkan pada Firman ALLAH didalam Al-Qur’an ”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. al-Hujurat: 6). Menabur fitnah dalam pilkada bisa dikatagorikan menimbulkan permusuhan dan kebencian. Ancamannya bisa pidana dan perdata. Apakah ada diantara Anda-anda semua usai pemilukada akan menghadapi tuntutan pidana dan perdata. Nauzu billahi min zalik yaitu “Kami berlindung dengan Allah daripada perkara (perkara buruk) tersebut daripada menimpa kami.”

Dalam analisis ini , karena bertiga yaitu Cabup dan Cawabup Kerinci termasuk golongan politisi yang mengaku terpelajar dan berbudaya, maka mari kita sesama kandidat yang kali ini kebetulan semuanya  muslim putra Kerinci “ Mari melakukan Amar ma’ruf nahi munkar untuk masyarakat Kerinci, “ tandas bapak bernama lengkap Iwan Pelani, ST ( Edi Pengasai )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here